Sepeda Biru Menunggu Bulan Karya Amik Widyawati

 

Sepeda Biru Menunggu Bulan Karya Amik Widyawati

Buku Sepeda Biru Menunggu Bulan bukan buku yang sok pintar. Ia bukan buku yang berteriak-teriak ingin mengajar. Ia bercerita seperti teman duduk di sampingmu, berbisik pelan, lalu tiba-tiba… menyentuh tepat di dada.

Di dalamnya ada anak-anak desa yang bangun sebelum matahari, membantu orang tua, lalu berangkat sekolah dengan kaki lelah tapi hati tetap berani bermimpi. Ada laut yang cantik sekaligus kejam. Ada ibu yang menunggu tanpa tahu apakah orang yang dicintainya akan pulang. Ada tawa bermain petak umpet di bawah bulan purnama, mangga curian yang berujung celana sobek, burung kecil yang rindu induknya, dan anak pemberani yang jatuh di arena karapan sapi demi menjaga tradisi.

Ini cerita-cerita yang jujur. Kadang manis. Kadang pahit. Kadang bikin ketawa, lalu diam-diam bikin mata panas. Cerita yang terasa seperti ingatanmu sendiri, meski kamu tak pernah tinggal di Madura.

Bahasanya ringan, hangat, dan hidup. Tidak kaku. Tidak menggurui. Seperti suara anak kecil yang bercerita apa adanya, tapi diam-diam menyimpan makna besar tentang keluarga, keberanian, kehilangan, dan harapan.

Buku ini cocok untuk anak-anak, tapi akan menghantam pelan orang dewasa. Karena setiap orang dewasa pernah menjadi anak kecil yang punya sepeda, punya mimpi, dan pernah menunggu sesuatu di bawah cahaya bulan.

Buka halaman pertamanya.
Lalu biarkan sepeda biru itu membawamu pulang—
ke masa kecil,
ke desa,
ke hati yang lama tak kau dengar suaranya.

Bacalah buku ini perlahan. Karena sebagian dari dirimu mungkin tinggal di dalamnya.


Post a Comment

0 Comments