Mengintip Madura dari Celah-Celah Karya AH Hasmidi
Mengintip Madura dari Celah-Celah bukan sekadar kumpulan esai tentang sebuah pulau. Buku ini adalah perjalanan intelektual sekaligus perjalanan batin yang mengajak pembaca memasuki ruang-ruang kecil kehidupan masyarakat Madura—ruang yang sering luput dari perhatian, tetapi justru menyimpan makna paling dalam tentang identitas, sejarah, bahasa, tradisi, pendidikan, hingga cara pandang masyarakat terhadap kehidupan. Berangkat dari kumpulan esai yang pernah dimuat di media massa, penulis menghadirkannya kembali sebagai upaya mendokumentasikan potongan-potongan pengetahuan lokal agar tidak hilang ditelan zaman.
![]() |
| Sampul Mengintip Madura dari Celah-Celah |
Melalui gaya bertutur yang ringan namun reflektif, Ah Hasmidi mengajak pembaca mengamati Madura dari sudut-sudut yang jarang disorot. Pembahasan mengenai kosakata Madura yang mulai punah, asal-usul nama masyarakat, tata cara undangan tradisional, tradisi Syawalan, pendidikan, pesantren, pernikahan, musik, bahasa, hingga kekayaan kuliner lokal menjadi bukti bahwa kebudayaan tidak hanya hidup dalam peristiwa-peristiwa besar, tetapi juga dalam kebiasaan sehari-hari yang sering dianggap biasa. Setiap esai menjadi jendela kecil yang membuka pandangan baru tentang betapa kayanya peradaban Madura.
Yang membuat buku ini menarik adalah keberanian penulis mengangkat pertanyaan-pertanyaan yang sering tidak terpikirkan oleh pembaca. Mengapa beberapa kosakata Madura menghilang? Bagaimana perubahan sosial memengaruhi bahasa dan tradisi? Mengapa pola pemberian nama masyarakat Madura memiliki kemiripan dengan budaya lain? Bagaimana etika dalam tradisi undangan mencerminkan nilai penghormatan kepada sesama? Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak disajikan sebagai jawaban mutlak, melainkan sebagai bahan diskusi yang mengundang pembaca berpikir lebih jauh dan menelusuri sendiri kekayaan budaya Madura.
Di sisi lain, buku ini juga menunjukkan bahwa pelestarian budaya bukan sekadar menjaga peninggalan masa lalu, melainkan mempertahankan cara berpikir, nilai-nilai kehidupan, dan identitas suatu masyarakat. Hilangnya satu kata dalam bahasa daerah, misalnya, bukan hanya berarti hilangnya sebuah istilah, tetapi juga hilangnya cara masyarakat memahami dunia di sekitarnya. Melalui pendekatan dokumentatif dan reflektif, buku ini menghadirkan budaya Madura sebagai sesuatu yang hidup, berkembang, sekaligus menghadapi tantangan modernisasi.
Lebih dari sekadar bacaan umum, Mengintip Madura dari Celah-Celah layak menjadi referensi bagi guru, mahasiswa, peneliti, pegiat budaya, pemerhati bahasa daerah, maupun siapa saja yang ingin memahami Madura secara lebih utuh. Esai-esainya dapat menjadi inspirasi pembelajaran kontekstual, bahan penelitian, hingga pijakan dalam upaya pelestarian budaya lokal yang semakin mendesak dilakukan.
Buku ini mengingatkan kita bahwa sebuah kebudayaan tidak selalu dikenali melalui monumen besar atau peristiwa bersejarah. Kadang, ia justru bersembunyi dalam satu kata yang hampir punah, dalam tradisi keluarga yang sederhana, dalam cara masyarakat menyambut tamu, atau dalam lagu-lagu yang diwariskan dari generasi ke generasi. Jika Anda ingin mengenal Madura bukan hanya dari stereotip, tetapi dari denyut kehidupan masyarakatnya yang sesungguhnya, maka buku ini adalah pintu masuk yang layak untuk dibuka. Membacanya berarti ikut menjaga agar jejak-jejak budaya Madura tetap hidup, dipahami, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.


Post a Comment
0 Comments